ABSTRAK belajar di rumah dapat dilakukan dengan mengawasi dan

ABSTRAK

PERAN ORANG TUA DALAM PRESTASI BELAJAR ANAK

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Orang
tua adalah orang yang paling utama bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya.
Para orang tualah yang menentukan masa depan anak. Namun dalam mengakui
keterbatasan dan peluang yang dimiliki, sehingga orang tua meminta pihak luar
untuk membantu mendidik anak-anak mereka. Pihak lainnya adalah guru-guru di sekolah.
Namun demikian, setelah anak-anak dititipkan di sekolah, orang tua tetap mempunyai
peran besar dalam bertanggung jawab untuk keberhasilan pendidikan anak-anak
mereka. Orang tua berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan
anak-anak mereka. Induk peran dan tanggung jawab antara lain dapat diwujudkan
dengan membimbing kelangsungan anak belajar di rumah sesuai dengan program yang
telah dipelajari oleh anak-anak di sekolahnya. Membimbing anak-anak untuk belajar
di rumah dapat dilakukan dengan mengawasi dan membantu pengaturan tugas sekolah
serta menyelesaikan instrumen dan infrastruktur anak dalam belajar.

 

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Lembaga pendidikan yang ada untuk merealisasikan tujuan pendidikan
nasional tersebut merupakan tumpuan dan harapan para orang tua, siswa dan
masyarakat guna memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan sifat-sifat
kepribadian utama, sebagai sarana pengembangan karir, peningkatan status sosial
dan bekal hidup lainnya di dunia dan di akhirat.

Pendidikan adalah sebuah proses yang berlangsung seumur hidup dan
dapat di lakukan di  lingkungan keluarga,
sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama
antara keluarga masyarakat dan pemerintah.

Berbicara tentang proses pendidikan sudah tentu tak dapat
dipisahkan dengan semua upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan sumber
daya manusia yang berkualitas, sedangkan manusia yang berkualitas itu dilihat
dari segi pendidikan, yang telah tergantung secara jelas dalam tujuan
pendidikan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut perlu adanya peninjauan
berbagai aspek yang mendukung usaha tersebut, terutama dalam proses
pembelajaran yang berlangsung. Karena proses pembelajaran akan berpengaruh
besar terhadap tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa. Berbicara tentang
hasil belajar anak, hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada
anak yang mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan realisasi
tercapaianya tujuan pendidikan, sehingga hasil yang diukur sangat tergantung
kepada tujuan pendidikannya.

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah pendidikan.
Salah satunya ialah peranan orang tua. Orang tua yang memahami tanggung jawabnya,
akan berusaha semaksimal mungkin supaya anak-anaknya menjadi pribadi  yang baik. Usaha yang dilakukan orang tua
bukan saja memenuhi kebutuhan jasmani, akan tetapi kebutuhan rohani dan
spiritual pun diajarkan guna menjadi anak yang baik. oleh karena itu, usaha
yang dilakukan orang tua semenjak dini akan menjadi bekal setelah anaknya besar
nanti.

Menurut Gertrude Jaeger bahwa “peranan para agen sosialisasi dalam
sistem keluarga pada tahap awal sangat besar 
karena anak sepenuhnya berada dalam lingkungan keluarganya terutama
orang tuanya sendiri”.

Keterkaitan orang tua dalam hal pendidikan sangatlah penting,
khususnya dalam proses belajar  mengajar,
ada pekerjaan rumah yang tidak bisa dijawab, orang tua harus kreatif mencari
dari buku yang lain atau membimbing anak mencarikan hal-hal yang lain sehingga
anak merasa bahwa orang tuanya tidak sekedar memberikan uang jajan atau
menyekolahkannya, tetapi juga ikut berperan dalam meningkatkan hasil
belajarnya. Dengan kata lain, dalam proses pendidikan maka semua pihak
terlibat, baik guru, siswa maupun orang tua. Bahkan sebagian orang berpikir
bahwa pendidikan itu hanya merupakan tanggung jawab sekolah, mereka seolah-olah
berpikir masalah telah selesai. Padahal orang tua merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dan keberhasilan anak dalam berprestasi.

 

METODE

Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
deskriptif, yaitu dengan cara mendeskripsikan
fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis (Ratna, 2007: 53).  Berdasarkan analisis data tadi, ditentukanlah
kesimpulan akhir. Kesimpulan tersebut akan memperlihatkan hasil yang didapat..
Penelitian ini hanya meneliti dan bertujuan mendeskripsikan peran orang tua
dalam prestasi belajar anak.

 

 

PEMBAHASAN

Agar lebih
jelas dalam membahas istilah peran orang tua dan prestasi belajar, maka
terlebih dahulu akan diuraikan satu persatu istilah tersebut. Peran adalah
pelaksana hak dan kewajiban seseorang sesuai dengan  kedudukannya. Menurut Thamrin Nasution “orang
tua merupakan setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau
tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan
Ibu”.

Kata prestasi dalam bahasa Inggris “Achivement” berarti
hasil yang telah dicapai dari yang telah ditetapkan. Sedangkan dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia prestasi diartikan sebagai sebuah hasil yang di capai
dari suatu pekerjaan/usaha yang telah dilakukan, yang menandai dan member
penelitian terhadap  baik tidaknya hasil
usaha tersebut.

Sedangkan, secara umum belajar dimaksudkan sebagai kegiatan
psikofisik menuju perkembangan pribadi utuh, sedangkan secara spesifik belajar
dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan
sebuah kegiatan menuju terbentuknya kepribadian yang utuh.

Menurut ahli psikologi belajar diartikan sebagai suatu proses usaha
yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang
baik, secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu tersebut dalam
reaksinya dengan lingkungan.1

Prestasi belajar merupakan kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan
data hasil belajar siswa yang meliputi perubahan perilaku dari tiga buah ranah
psikologis yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan
tingkah laku yang terjadi sebagai hasil belajar siswa baik cipta dan rasa
maupun yang berdimensi karsa.

Menurut Muhibbin Syah, pada prinsipnya bahwa pengungkapan hasil
belajar idealnya meliputi segenap ranah psikologis yang berubah akibat dari
pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan
tingkah laku seleruh ranah itu, khususnya ranah rasa siswa, sangat sulit. Hal
ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak
dapat diraba).2

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Mudzakir dan Sutrisno
(1997) mengemukakan  faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
secara lebih rinci, yaitu:

a.        
Faktor internal (faktor
dari dalam diri manusia)

Faktor ini meliputi:

1)  Faktor fisiologi (yang
bersifat fisik) yang meliputi: Karena sakit, karena kurang sehat, karena cacat
tubuh

2)  Faktor psikologi
(faktor yang bersifat rohani)logi meliputi:

a)     Intelegensi

Seseorang yang memiliki IQ 110 – 140 dapat digolongkan cerdas, dan yang
memiliki IQ 140 ke atas tergolong jenius.

b)     Bakat

Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Apabila
seseorang harus mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya, ia akan
cepat bosan, mudah putus asa dan tidak senang.

c)      Minat

Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul
kesulitan belajar. Ada tidaknya minat terhadap suatu pelajaran dapat dilihat
dari cara anak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan dan aktif tidaknya
dalam proses pembelajaran.

d)     Motivasi

Motivasi sabagai faktor dalam (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari dan
mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam
mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar
kesuksesan belajarnya.

e)     Faktor kesehatan mental

Hubungan kesehatan mental dengan belajar adalah timbal balik. Kesehatan
mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik.3

b.       
Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang, faktor
ini meliputi :

1)     Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Yang termasuk
faktor ini antara lain :

a)    
Perhatian orang tua

          Dalam
lingkungan keluarga setiap individu atau siswa memerlukan perhatian orang tua
dalam mencapai prestasi belajarnya. Karena perhatian orang tua ini akan
menentukan seseorang siswa dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi.
Perhatian orang tua diwujudkan dalam hal kasih sayang, memberi nasihat-nasihat
dan sebagainya.

b)    
Keadaan ekonomi orang tua

          Keadaan
ekonomi keluarga juga mempengaruhi prestasi belajar siswa, kadang kala siswa
merasa kurang percaya diri dengan keadaan ekonomi keluarganya. Akan tetapi ada
juga siswa yang keadaan ekonominya baik, tetapi prestasi prestasi belajarnya
rendah atau sebaliknya siswa yang keadaan ekonominya rendah malah mendapat
prestasi belajar yang tinggi.

c)     
Hubungan antara anggota keluarga

          Dalam
keluarga harus terjadi hubungan yang harmonis antar personil yang ada. Dengan
adanya hubungan yang harmonis antara anggota keluarga akan mendapat kedamaian,
ketenangan dan ketentraman. Hal ini dapat menciptakan kondisi belajar yang
baik, sehingga prestasi belajar siswa dapat tercapai dengan baik pula.

2)     Lingkungan sekolah

Yang dimaksud sekolah, antara lain : Guru, faktor alat, kondisi gedung

3)     Faktor mass media dan
lingkungan sosial (masyarakat)

a)     Faktor mass media
meliputi ; bioskop, tv, surat kabar, majalah, buku-buku komik yang ada di
sekeliling kita. Hal-hal itu yang akan menghambat belajar.

b)     Lingkungan sosial

·                                        
Teman bergaul berpengaruh sangat besar bagi anak-anak. Maka kewajiban orang
tua adalah mengawasi dan memberi pengertian untuk mengurangi pergaulan yang
dapat memberikan dampak negatif bagi anak tersebut.

Aktivitas dalam masyarakat juga dapat berpengaruh dalam belajar anak. Peran
orang tua disini adalah memberikan pengarahan kepada anak agar kegiatan diluar
belajar dapat diikuti tanpa melupakan tugas belajarnya.

 

Peran Orang Tua Dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak

Dari semua faktor
eksternal, maka orang tualah yang paling berperan dalam menentukan prestasi
belajar anak. Orang tua merupakan sosok pertama dan utama dalam pendidikan
anak. Meskipun anak telah dititipkan ke sekolah, tetapi orang tua tetap berperan
terhadap prestasi belajar anak. Arifin menyebutkan, ada tiga peran orang tua
yang berperan dalam prestasi belajar anak, yaitu:

1.       
Menyediakan kesempatan
sebaik-baiknya kepada anak untuk menemukan minat, bakat, serta
kecakapan-kecakapan lainnya serta mendorong anak agar meminta bimbingan dan
nasehat kepada guru.

2.       
Menyediakan
informasi-informasi penting dan relevan yang sesuai dengan bakat dan minat
anak.

3.       
Menyediakan fasilitas
atau sarana belajar serta membantu kesulitan belajarnya.4
Berdasarkan pendapat Arifin di atas, maka dapat dijelaskan Lebih rinci dan luas
tentang peran orang tua dalam mendukung prestasi belajar anak, yaitu:

1. Pengasuh dan pendidik

Orang tua berperan sebagai pendidik sebab dalam pekerjaannya tidak hanya
mengajar, tetapi juga melatih ketrampilan anak, terutama sekali melatih sikap
mental anak.5
Maka dalam hal ini, orang tua harus dan mampu bertanggung jawab untuk menemukan
bakat dan minat anak, sehingga anak diasuh dan dididik, baik langsung oleh
orangtua atau melalui bantuan orang lain, seperti guru, sesuai dengan bakat dan
minat anak sendiri, sehingga anak dapat memperoleh prestasi belajar secara lebih
optimal. Bukan karena keegoisan orang tua, yang justru “memenjarakan” anak
dengan kondisi yang diinginkan orang tua.

2. Pembimbing

Bimbingan adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka
memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan, agar orang
tersebut mampu mengatasinya sendiri dengan penuh kesadaran.6 Maka
dalam hal ini, orangtua harus senantiasa memberikan bimbingan secara
berkelanjutan. Anak di sekolah hannya enam jam, dan bertemu dengan gurunya
hannya sampai 2 dan 3 jam. Maka prestasi belajar anak sangat didukung oleh
bimbingan belajar yang diberikan orang tua secara berkelanjutan, langsung
maupun tidak langsung.

3. Motivator

Orang tua memberikan dorongan tentang pentingnya belajar dengan tujuan
dapat meningkatkan prestasi belajar, sehingga anak benar-benar merasa penting
dan membutuhkan apa yang dianjurkan oleh orangtuanya.7 Orang
tua harus mampu menjadi motivator belajar anak. Hal ini dilakukan antara lain
dengan membimbing belajar anak dengan kasih sayang secara berkelanjutan, serta
dengan menciptakan suasana belajar di rumah. Suasana belajar dapat diwujudkan
dengan meminimalisir kebiasaan-kebiasaan yang kurang bermanfaat, seperti nonton
TV secara terus menerus, maka bagaimana suasana belajar mampu dikondisikan oleh
orang tua, maka sejauh itu pula anak termotivasi untuk belajar. Semakin tinggi
motivasi belajar anak, semakin tinggi pula kemungkinan anak untuk memperoleh
prestasi belajar yang maksimal.

4. Fasilitator

Dalam belajar mengajar orang tua menyediakan berbagai fasilitas seperti media,
alat peraga, termasuk menentukan berbagai jalan untuk mendapatkan fasilitas
tertentu dalam menunjang program belajar anak. Orang tua sebagai fasilitator
turut mempengaruhi tingkat prestasi yang dicapai anak.8 Bentuk
dukungan lain yang tidak kalah pentingnya berkenaan dengan peranan orang tua
dalam belajar anak adalah dengan menyiapkan berbagai fasilitas pembelajaran.
Fasilitas ini dimulai dengan biaya pendidikan karena tidak ada pendidikan
gratis seratus persen. Fasilitas pendidikan selanjutnya adalah berkenaan dengan
penyediaan buku-buku ajar yang dibutuhkan peserta didik, demikian juga dengan fasilitas
lainnya, seperti alat-alat tulis, tempat belajar, dan lain-lain.

 

Masalah yang
dihadapi orang tua dalam upaya peningkatan prestasi belajar anak.

Permasalahan
umum yang dialami oleh setiap orang tua dalam memberikan dukungan terhadap
anak-anaknya banyak dikarenakan kesibukan mereka mencari nafkah, mereka
berdalih bahwa mereka tidak mempunyai waktu untuk sekedar membantu mengerjakan
pekerjaan rumah (PR) bagi anaknya. Orang tua merasa bahwa waktu yang mereka
miliki tidak sampai atau tidak mencukupi untuk memberikan bimbingan bagi
anaknya, waktu semuanya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja. Selain
permasalahan di atas, kendala Sumber Daya Manusia (SDM) orang tua menjadi
penyebab kurangnya mereka dalam ikut serta meningkatkan prestasi anaknya.
Banyak orang tua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan tidak sedikit
mereka yang tidak bersekolah sama sekali. Umumnya mereka adalah orang tua tempo
dulu atau orang tua yang hidup di tempat-tempat pedalaman atu desa yang masih
belum maju.   

 

KESIMPULAN

Dari
berbagai penjelasan yang telah dijabarkan diatas, penulis dapat menyimpulkan
bahwa peran orang tua dalam menentukan prestasi belajar anak di sekolah sangatlah
besar. Orang tua yang kurang atau bahkan tidak memperhatikan pendidikan pada
anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap proses belajar anaknya, tidak
memperhatikan sama sekali akan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar,
tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan atau melengkapi alat belajarnya,
tidak mau tahu bagaimana kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang
dialami anaknya dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak kurang atau
bahkan tidak berhasil dalam belajarnya. Hasil yang didapatkan, nilai atau
prestasi belajarnya tidak akan memuaskan bahkan mungkin gagal.

Sebaliknya,
orang tua yang selalu memberikan perhatian pada anaknya, terutama perhatian
pada kegiatan belajar mereka di rumah, membuat anak akan lebih giat dan lebih
bersemangat dalam belajar karena si anak tahu bahwa bukan dirinya sendiri saja
yang berkeinginan untuk maju, akan tetapi orang tuanya juga memiliki keinginan
yang sama dengannya. Sehingga hasil belajar atau prestasi belajar yang di raih
oleh anak menjadi lebih baik.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 1992. Pokok-pokok
Pemikiran Tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Idianto M. 2004. Sosiologi untuk SMA Kelas X. Jakarta:
Erlangga.

Makmu, Abin Syamsudin. 1998. Psikologi Pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.

Purwanto, Ngalim. 1991. Psikologi Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Sardiman. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Menagajar.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor Yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta.

Sucipto dan Raflis Kosasih. 2000. Profesi Keorangtuaan.
Jakarta: Rineka Cipta.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru.
Bandung: Remaja Rosdakarya.

WS. Winkel. 1996. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: Gramedia.

1
Slameto. 1995. Belajar
dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

2
Syah, Muhibbin.
1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

3 Slameto. 1995. Belajar
dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta,
hal. 57

 

4 Arifin. 1992. Pokok-pokok
Pemikiran Tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta: Bulan Bintang,
hal. 92

5 Sardiman. 1996.
Interaksi dan Motivasi Belajar Menagajar. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, hal. 72

6 Sucipto dan
Raflis Kosasih. 2000. Profesi Keorangtuaan. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.
109

7 Ibid,
hal.109

8 Sucipto dan
Raflis Kosasih. 2000. Profesi Keorangtuaan. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.
109